Now Reading
Mengenal Hujan Buatan dan Jenis Hujan Lainnya Lebih Dekat

Mengenal Hujan Buatan dan Jenis Hujan Lainnya Lebih Dekat

hujan buatan

Teknologi modifikasi cuaca sudah tak asing lagi di telinga kamu bukan? Ya, akhir-akhir ini teknologi modifikasi cuaca memang sedang viral dibicarakan dalam upaya membantu memadamkan api hutan dan lahan. Tak hanya berfungsi untuk memadamkan api, teknologi modifikasi cuaca juga dapat membantu mengurangi asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan. 

Teknologi modifikasi cuaca sebenarnya dikenal juga dengan nama hujan buatan. Nah, yang namanya buatan, maka otomatis tidak alamiah namun dibuat oleh campur tangan manusia. Namun, tahukah kamu bagaimana cara membuat hujan buatan? Eits, tapi sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara membuat hujan buatan, sebelumnya, kita bahas terlebih dahulu ya, jenis-jenis hujan.

Hujan Siklonal

 Hujan siklonal, terjadi apabila kamu merasakan beberapa situasi seperti;

  • Cuaca terasa sangat panas,
  • Adanya angin yang berputar- putar. Angin siklon adalah angin yang berputar menuju ke titik pusat seperti tornado,
  • Adanya awan mendung yang sangat gelap,
  • Hujan yang turun merupakan hujan yang sangat deras dan disertai dengan angin,
  • Hujan biasanya tidak berlangsung dalam waktu yang lama, atau hanya berlangsung dalam waktu yang sebentar saja. 

Nah, hujan siklonal ini biasa terjadi di Amerika Serikat yang terkenal dengan nama tornado dan siklon tropis “Hurricane”. Wah, semoga saja tidak terjadi di Indonesia ya, karena dampak dari tornado ini akan sangat membahayakan jiwa manusia dan keadaan lingkungan sekitar.

Hujan Orografis

hujan buatan
ilmugeografi.com

Hujan orografis, terjadi apabila terlihat ciri seperti di bawah ini:

  • Hujan biasanya terjadi di daerah gunung atau wilayah pegunungan,
  • Pada dasarnya terjadinya hujan ini dikarenakan oleh angin fohn. Angin fohn atau angin lokal atau angin terjun adalah angin yang terjadi apabila ada gerakan massa udara yang menaiki suatu pegunungan dengan ketinggian lebih dari 200 meter. Massa udara yang mencapai puncak pegunungan akan mengalami kondensasi dan akhirnya timbul hujan pada satu sisi lereng,
  • Hujan terjadi karena adanya udara yang mengandung uap air naik ke atas gunung,
  • Turunnya air di lereng gunung.

Kamu yang sedang mendaki gunung atau berada di daerah pengunungan, maka kamu harus berhati-hati ya. Pasalnya bila sudah terasa ada udara yang mengandung uap air bergerak ke atas, tidak menutup kemungkinan hujan orografis turun.

Hujan Muson

jurnalsumatra.com

Hujan Muson, merupakan hujan yang terjadi akibat adanya hembusan angin muson yang bertiup di Indonesia. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Terjadi karena disebabkan oleh berhembusnya angin muson barat (angin yang berhembus dari benua Asia menuju ke benua Australia. Angin yang bertiup ini mempunyai sifat khusus yakni membawa banyak uap air (karena angin yang berhembus melewati banyak perairan yang menguap),
  • Biasanya terjadi rutin atau setiap hari dan disebut sebagai musim penghujan 
  • Biasanya terjadi selama enam bulan lamanya antara bulan Oktober hingga Maret
  • Terjadinya rata di wilayah Indonesia.

Hujan muson lah yang biasa kita lalui mulai dari bulan Oktober hingga Maret, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Hujan Zenithal

Hujan Zenithal, adapun ciri-cirinya adalah berikut:

  • Hujan terjadi di wilayah yang mempunyai iklim tropis,
  • Hujan sering terjadi di siang hari ketika matahari sedang terik sekali atau ketika cuaca cerah,
  • Hujan yang turun sangat lebat,
  • Air yang jatuh adalah hasil penguapan sumber air yang ada di permukaan bumi.

Bila siang hari panas dan terik matahari begitu menyengat, lalu setelahnya mendadak turun hujan, maka inilah yang dinamakan hujan Zenithal atau yang lebih akrab disebut dengan hujan Konveksi. Karena dari dua sisi (kanan dan kiri) bertemu dua arus konveksi menyebabkan tabrakan dan kedua massa udara naik ke atas sehingga uap air berubah menjadi hujan.

Hujan Buatan

hujan buatan

Hujan Buatan, ini yang disebut juga Teknologi Modifikasi Cuaca. Pengertiannya adalah hujan yang dibuat oleh teknologi manusia agar hujan dapat turun ke daratan. 

See Also
sholat idul fitri

Jadi hujan buatan ini biasanya digunakan apabila terjadi kebakaran yang sudah meluas dan telah menyebabkan efek negatif pada pencemaran udara di lingkungan tersebut.

Nah, biasanya hujan buatan digunakan di musim kemarau yang panjang. Yang bertugas untuk membuat hujan buatan ini adalah pemerintah dan lembaga terkait, misalnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Adapun syarat utama dibuat hujan buatan adalah ditemukan awan yang memiliki kadar potensi hujan minimal 70 persen. Awan yang memiliki kadar berpotensi hujan sampai 70 persen tersebutlah yang mampu disemai. 

Nah, jadi ketika BMKG sudah mendapat informasi tentang awan yang berpotensi disemai, pihaknya akan segera melaporkan ke BPPT untuk tindak lanjut. Proses “menaburi” awan dengan garam (NaCl) inilah yang disebut penyemaian awan, tujuannya untuk membuat awan “matang” sehingga bisa mengikat butiran-butiran air dalam awan dan akhirnya menurunkan hujan. Jadi, awan tersebut dirangsang untuk memberikan proses lebih cepat bila dibandingkan dengan proses alami. 

Apapun jenis hujannya, pastikan kamu cari tempat aman dulu ya untuk berteduh. Kamu bisa tunggu sampai hujan reda atau selesai agar kamu bisa selamat sampai tujuan.

Baca juga:  7 Kosmetik Korea yang Cocok Digunakan saat Musim Panas

close