Now Reading
PSBB Jakarta Masuk Masa Transisi, Ini Protokol Tempat Kerja yang Wajib Diterapkan

PSBB Jakarta Masuk Masa Transisi, Ini Protokol Tempat Kerja yang Wajib Diterapkan

PSBB DKI Jakarta kembali diperpanjang oleh Gubernur Anies Baswedan. Perpanjangan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) DKI Jakarta hingga akhir Juni 2020 ini akan menjadi PSBB masa transisi sebelum menuju new normal. Pada perpanjangan PSBB DKI Jakarta ini, pemerintah akan menetapkan beberapa jadwal dan protokol pembukaan masa transisi dari aktivitas masyarakat, tak terkecuali tempat kerja, perkantoran atau bisnis kerja.

Protokol Tempat Kerja Selama PSBB DKI Jakarta Masa Transisi

  • Pekerja perkantoran sudah diperbolehkan masuk ke kantor mulai 8 Juni 2020. Namun ini hanya dengan komposisi 50 persen dari total pekerja. 50% karyawan kerja di kantor dan 50% karyawan kerja di rumah.
  • Tempat kerja juga diharapkan membagi jam kerja karyawannya yang berada di kantor sekurang-kurangnya dalam dua kelompok waktu yang berbeda (minimal jeda 2 jam) untuk mengendalikan kapasitas saat mobilitas datang, pulang, istirahat di gedung tinggi. Misalkan: ada yang mulai separuh jam 7 pagi dan separuh 9 pagi, supaya kedatangannya, masa istirahat dan kepulangan jumlahnya tidak terlalu banyak.
PSBB Jakarta
Tangkapan layar dari poin presentasi yang dipaparkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam konferensi pers
Baca juga:  6 Perusahaan RI Masuk Daftar Tempat Kerja Terbaik di Dunia, Adakah Kantormu?

Perusahan Tempat Kerja Juga Wajib Mematuhi Protokol New Normal Tempat Kerja dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 Ini Detailnya:

Panduan protokol normal baru atau new normal Indonesia bagi perkantoran atau perusahaan di tengah Corona COVID-19 juga diterbitkan oleh Menteri Kesehatan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, berikut detailnya:

  • Pihak manajemen/Tim Penanganan COVID-19 di tempat kerja selalu memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, serta memperbaharui kebijakan dan prosedur terkait COVID-19 di tempat kerja sesuai dengan perkembangan terbaru. (Secara berkala dapat diakses http://infeksiemerging.kemkes.go.id dan kebijakan Pemerintah Daerah setempat) 
  • Mewajibkan semua pekerja menggunakan masker selama di tempat kerja, selama perjalanan dari dan ke tempat kerja serta setiap keluar rumah. 
  • Larangan masuk kerja bagi pekerja, tamu/pengunjung yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan, batuk, pilek, sesak nafas. Berikan kelonggaran aturan perusahaan tentang kewajiban menunjukkan surat keterangan sakit. 
  • Jika pekerja harus menjalankan karantina/isolasi mandiri agar hak-haknya tetap diberikan. 
  • Menyediakan area/ruangan tersendiri untuk observasi pekerja yang ditemukan gejala saat dilakukan skrining. 
  • Pada kondisi tertentu jika diperlukan, tempat kerja yang memiliki sumber daya dapat memfasilitasi tempat karantina/isolasi mandiri. Standar penyelenggaraan karantina/isolasi mandiri merujuk pada pedoman dalam www.covid19.go.id.
  • Penerapan http://infeksiemerging.kemkes.go.id  dan sanitasi lingkungan kerja 
    • Selalu memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai (setiap 4 jam sekali). Terutama handle pintu dan tangga, tombol lift, peralatan kantor yang digunakan bersama, area dan fasilitas umum lainya.
    • Menjaga kualitas udara tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, pembersihan filter AC. 
  • Melakukan rekayasa engineering pencegahan penularan seperti pemasangan pembatas atau tabir kaca bagi pekerja yang melayani pelanggan, dan lain lain. 
  • Satu hari sebelum masuk bekerja dilakukan self assessment risiko COVID-19 pada seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit COVID-19. Tamu diminta mengisi Self Assessment. 
  • Melakukan pengukuran suhu tubuh (skrining) di setiap titik masuk tempat kerja:
    • Petugas yang melakukan pengukuran suhu tubuh harus mendapatkan pelatihan dan memakai alat pelindung diri (masker dan faceshield) karena berhadapan dengan orang banyak yang mungkin berisiko membawa virus.
    • Pengukuran suhu tubuh jangan dilakukan di pintu masuk dengan tirai AC karena dapat mengakibatkan pembacaan hasil yang salah. 
    • Interpretasi dan tindak lanjut hasil pengukuran suhu tubuh di pintu masuk.
  • Terapkan physical distancing/jaga jarak:
    • Pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan physical distancing. 
    • Pada pintu masuk, agar pekerja tidak berkerumun dengan mengatur jarak antrian. Beri penanda di lantai atau poster/banner untuk mengingatkan.
    • Jika tempat kerja merupakan gedung bertingkat maka untuk mobilisasi vertical lakukan pengaturan sebagai berikut: 
      • Penggunaan lift: batasi jumlah orang yang masuk dalam lift, buat penanda pada lantai lift dimana penumpang lift harus berdiri dan posisi saling membelakangi.
      • Penggunaan tangga: jika hanya terdapat 1 jalur tangga, bagi lajur untuk naik dan untuk turun, usahakan agar tidak ada pekerja yang berpapasan ketika naik dan turun tangga. Jika terdapat 2 jalur tangga, pisahkan jalur tangga untuk naik dan jalur tangga untuk turun.
      • Lakukan pengaturan tempat duduk agar berjarak 1 meter pada meja/area kerja, saat melakukan meeting, di kantin, saat istirahat, dan lain lain. 
    • Jika memungkinkan, menyediakan transportasi khusus pekerja untuk perjalanan pulang pergi dari mess/perumahan ke tempat kerja sehingga pekerja tidak menggunakan transportasi publik. 
    • Petugas kesehatan/petugas K3/bagian kepegawaian melakukan pemantauan kesehatan pekerja secara proaktif guna implementasi new normal Indonesia, berikut detailnya:
      • Sebelum masuk kerja, terapkan self assessment risiko COVID-19 pada seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit COVID-19.
      • Selama bekerja, masing-masing satuan kerja/bagian/divisi melakukan pemantauan pada semua pekerja jika ada yang mengalami demam/batuk/pilek. 
      • Mendorong pekerja untuk mampu deteksi diri sendiri (self monitoring) dan melaporkan apabila mengalami demam/sakit tengorokan/batuk/pilek selama bekerja. 
      • Bagi pekerja yang baru kembali dari perjalanan dinas ke negara/daerah terjangkit COVID-19 pekerja diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah dan pemantauan mandiri selama 14 hari terhadap gejala yang timbul dan mengukur suhu 2 kali sehari.
Baca juga:  Panduan New Normal Indonesia untuk Tempat Kerja & Pekerja

close